Artikel

Perubahan Iklim dan Perubahan Gaya Hidup

Istilah perubahan iklim sudah tak asing lagi di telinga masyarakat. Bahkan sudah menjadi perbincangan masyarakat di seluruh dunia. Di setiap perubahan iklim yang terjadi akan selalu diiringi dengan usaha makhluk hidup beradaptasi, terutama manusia.

Peningkatan suhu bumi yang semakin memanas akibat efek dari rumah kaca di atmosfer, mencairnya bongkahan-bongkahan es di wilayah kutub, mengakibatkan meningkatya jumlah massa air di lautan. Pertumbuhan penduduk yang menaik kian drastis menyulitkan mereka dalam mendapati tempat tinggal. Sehingga banyak lahan-lahan hijau seperti perkebunan, pertanian bahkan hutan yang awalnya subur dan menjadi mata pencaharian masyarakat sekitar, kini habis akibat dibangunnya perumahan-perumahan baru. Kebutuhan akan kendaraan bermotor yang meningkat dan asap-asap panas pabrik juga turut serta dalam merusak atmosfer bumi. Padahal lahan hijau sangat membantu mengurangi dampak buruk dari sinar ultraviolet serta suhu bumi yang panas.

Dari mulai erosi, hingga menghilangnya pulau-pulau kecil di beberapa bagian wilayah Indonesia merupakan akibat dari naiknya permukaan laut. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), menunjukkan bahwa selama ini telah terjadi peningkatan tinggi muka air laut sebesar 1 – 2 meter dalam kurun waktu sekitar 100 tahun terakhir. Apabila kondisi ini terus berlanjut, maka negara kita akan mengalami dampak yang cukup serius. Masyarakat dan nelayan yang berdomisili di sekiar garis pantai akan semakin terdesak dan kemungkinan akan kehilangan tempat tinggal.

Cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, mulai dari banjir, longsor, dan kekeringan di mana-mana sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Hal ini akan dengan mudah menghambat jalur komunikasi, merusak infrastruktur sampai berdampak terhadap pembangunan nasional. Tidak hanya pada manusia, beberapa spesies yang tidak mampu menyesuaikan dengan kondisi sekarang akan sulit bertahan pada habitatnya. Oleh karena itu, tidak jarang banyak binatang dan tanaman menjadi mati.

Cepat atau lambatnya perubahan iklim tergantung dari perubahan gaya hidup kita. Seandainya manusia dapat mengurangi penggunaan emisi gas rumah kaca, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, tidak menebang hutan sembarangan, bahkan tidak membakar hutan, mungkin akan memperhambat atau setidaknya kita dapat menghindari diri dari bahaya dampak perubahan iklim yang ekstrem.

Salah satu kebijakan pemerintah yaitu penggunaan energi alternatif dalam kehidupan sehari-hari, serta upaya reboisasi hutan akan berdampak aman bagi atmosfer bumi. Di samping itu, mempertimbangkan tata kota, rencana pembangunan masyarakat masa kini apakah akan aman atau malah memperburuk iklim.

Apakah hal ini akan mempertangguh suatu tempat dalam menghadapi perubahan iklim? Bagaimana cara beradaptasi yang tepat? Terlepas dari konsekuensi berupa banjir dan kekeringan di tempat yang sama, ini persoalan bagaimana mempertimbangkan biaya, potensi, hingga dukungan sosial-politik dari pembuat kebijakan sehingga membantu menyusun prioritas metode adaptasi yang tepat. Seperti halnya dalam mengatasi kebanjiran, perbaikan sistem drainase, pengelolaan pantai sampai membantu para nelayan memperoleh hasil tangkapan ikan dengan baik, serta para petani memperoleh bibit unggul dalam memperbaiki kualitas dan kuantitas pangan.

Advertisements
Puisi

Ini Aku (Aku-Kamu)

Ini aku.
Bukan tentang aku-kamu sementara waktu.
Cukup aku yang berkisah menyembilu.
Aku duduk memaparkan kehidupan yang lapang.
Bukan pada orang yang sembarang.

Ini aku.
Tidak akan pernah ada jalan pulang untuk mengulang.
Karena semakin dua insan ingin meregangkan hati (berpisah), nyatanya semakin berkeinginan untuk kembali dan memperbaiki.
Dan apakah masih dengan perasaan yang serupa?
Atau aku akan benar-benar lupa.
Antara wujud dan rasa tak pernah sama.
Namun, menyuguhkan kenikmatan yang akrab.
Sungguh, itu bukanlah aku.

Aku ingin menceritakan sesuatu pada kamu.
Hanya sedikit saja.
Tapi berbekas pada relung hati.
Bahwa jalanku tak ‘kan lagi sama dengan langkahmu.

Tidak!
Bukan tentang perpisahan persahabatan.
Hanya dalam ruang yang berbeda, aku-kamu akan menuai harapan bersama.
Berdedikasi pada alam yang membesarkan impian.
Kali ini, aku tidak ingin mempersulit lidahku sendiri.
Hanya untuk mencapai fantasiku yang berduri.
Ini aku.
Sedang menyapamu.

Puisi, Sajak

Aku-Kamu adalah Cerita Sejak Lama

Tahukah kamu?
Aku melebih-lebihkan suatu kisah untuk memenuhi hasrat imajinasi;
Aku membatasi-menguranginya untuk hasrat privasi.
Aku ingin kamu tahu, kalau aku t’lah dipeluk oleh segenggam butiran fiksi, iya hanya segenggam saja, tidak banyak.
Pesonamu tidak akan terganti oleh karisma manapun di dunia ini.
Aku-kamu selalu menghirup aroma segar dari udara dan duduk di tempat yang sama.
Menyumpahi setiap denting jam agar tidak mudah cepat berlalu.
Masing-masing kepala kita memang tengah bercita-cita tentang masa depan.
Namun, kekurangan yang begitu arif dari dulu yaitu aku-kamu memiliki ketidakmengertian akan memaknai simbol-simbol dari cita-cita tersebut.
Aku merasa punah dan kering, sehingga mudah dienyahkan.
Aku tidak memiliki keberanian lagi untuk menatap mata-mata biasa. Namun, di balik pandangannya memiliki arti luar biasa. Entah cinta atau benci terhadapku.
Sebab aku sudah tidak mampu menafsirkan perbuatan seseorang.
Aku manusia paling biasa di antara manusia biasa yang berusaha berbuat lebih baik.
Kemampuanku terempas akibat mengeras dengan sendirinya.
Saking mengeras, aku tidak mampu menggunakannya–aku bodoh. Loozer!

Kalau saja setiap detik Tuhan memberi isyarat tentang baik-buruk perbuatan manusia;
Kalau saja setiap cermin di dunia akan berkata tentang nafsu bejat apa yang akan diperbuat oleh bayangan yang ada di dalamnya,
Mungkin semuanya akan baik-baik saja.
Tidak ada perjuangan;
Tidak ada ampunan;
Tidak ada surga dan neraka.

Aku bagai bocah kerdil yang emosional dan lari tunggang-langgang tanpa tujuan.
Bibirku pecah-pecah dan bahkan hingga berdarah.
Aku tidak terbiasa bernegosiasi pada hati sendiri tentang perumpamaan.
Padahal itu sangat baik, katanya.
Kupikir, itu hanya sebuah ketidakadilan atas ketidakmampuan menjaga diri sendiri.

Aku perlu penyejuk.
Demi keutuhan nuraniku yang semakin menipis dimakan sang waktu.
Terkadang, eloknya sang mentari sesekali mengintip aku yang tengah menangis dan mengais sikapku yang egois.
Aku enggan memiliki siapa saja di sampingku ini.
Karena kutahu, begitu besar resiko apabila seseorang t’lah tiba di posisi terdekatku.
Sesekali terancam akibat ketidakramahan pikiran yang keluar dari kepalaku.
Kita semua seperti orang asing.
Tapi, akulah yang paling terasing di benak kalian.
Aku ingin lari, tak mau ditertawai semua orang.

Tidak maukah kamu mengetahui apa isi doa terhadap diriku ini?
“Kenapa untuk diri sendiri?”
Ya, aku belum pantas mendoakan siapapun kalau diriku sendiri saja masih belum pantas memanjatkan doa untuk orang lain.
Apakah Tuhan akan mengabulkan doa dari manusianya yang berhati kotor?
Aku kelimpungan sementara.
Lalu, tak sadarkan diri di bawah neraca sumpahku sendiri.

Sedikit saja aku ingin diberi kesempatan untuk bernapas lega.
Aku lelah berdalih untuk membuktikan keinginanku yang tak tentu arah.
Sudah pasrah, melemah, tak ada semangat.
Aku selalu salah.
Bahkan semua orang meng-Iya-kan tentang sisi gelap hatiku.
Aku akan pura-pura lupa terhadap hasrat ingin mempertanyakan apakah kamu masih bersedia untuk bertahan atau sudah lelah.
Aku begitu naif mengakui rasa maluku sendiri.
Daripada kamu selalu mengingat luka lama dan berlama-lama merenungi sikapku yang teramat mengguncangkan batin.
Mungkin akan ada baiknya jika aku pergi ketimbang membiarkanmu terpaksa bahagia atas pengorbanan hubungan yang terlanjur dipertahankan.
Demi Tuhan, bahwa setiap air matamu itu begitu bening dan suci.
Dan air mataku yang begitu keruh ini, bukanlah dirancang untuk menarik perhatian siapapun. Sekejap saja bicara kepadaku tentang obsesi mencari tahu arti namaku (4 tahun lalu).
Aku meyakinkan diri kalau itu bukan apa-apa.
Itu bukan hal yang akan merobek langkah yang kuukir di kemudian hari hingga aku jatuh dan hancur berantakan, sia-sia.
Bukankah cinta bisa selalu ditumbuhkan (kembali)?

“Jatuh cinta suka menjelma kecemasan-kecemasan.” –Boy Candra.

Aku lelah menangisi kehidupanku yang tak pasti.
Cinta yang t’lah lama terpatri terlalu banyak hal yang tidak disepakati.
Kalau saja aku tahu bahwa hari ini adalah hari terakhirku menatap matamu yang polos nan menyejukkan, aku ingin cepat-cepat dipeluk olehmu. Itu permintaan terakhirku.
Bahkan, orang yang sedang terpuruk pun akan sekejap merasa bahagia jika dipeluk kekasihnya, aku-kamu sama-sama tahu itu.
Mari sama-sama mencerna kalimat demi kalimat ini.
Sebab aku menulis kalimat ini sambil mengelus-elus dada yang semakin sesak.
Dan jangan sesekali mendustai waktu.
Mungkin beberapa hari ke depan, hati aku-kamu akan merasa kesepian.
Aku ingin melepaskan segala kesusahanmu. Dan mulai mencintai setulus hati di dalam doa.
Tak peduli apakah bicaraku hanya sebuah bualan belaka, di pikiranmu. Tapi, ini nyata kuperbuat.
Sehebat apapun diksi yang kuucap, tetap saja aku tak mampu mengatakannya langsung di depan wajah bulatmu yang begitu indah pun nampak manis.

Ah, sudahlah.
Lagi-lagi aku terlalu lemah–melankolis.
Dan…
Tetiba, aku memakan sendiri perasaan yang Tuhan letakkan di balik dada suci ini.

Selepas itu, aku mati.
Tidak ada sambung cerita apapun lagi.

Selamat tinggal, kekasih yang amat suci–yang kucintai.

Puisi

Dia, Ibuku

Dalam sehari yang hening namun tenteram
Enyak sudah cahaya yang selama ini menjalar di pipi seorang yang baik hati di setiap pagi
Dia, Ibuku…
Sebab dialah yang selalu buatku merajuk tentang kasih sayang
Dia yang mengajarkan untuk mengendurkan saraf-saraf pada tanganku yang mengepal
Dia, Ibuku…

Tuhan selalu mendekap hatinya yang lemah
Disatukannya kekhawatiran akan keselamatan dan kejayaan atas diriku dalam wajahnya yang fana
Dan kutahu, dari setiap tetes hujan yang turun dan melambai pada jantung hati, tangisnya selalu mengumpat di balik doa-doanya yang ramah
Menggetarkan permadani angkasa yang saling merekat melindungi buminya
Sementara mataku tak mengerdipkan kelopaknya
Mungkin saja, saat ini mataku dan mata Tuhan saling berpandangan
Aku terkoyak dalam duka akibat tak mampu mengasihi;
Aku terjamah oleh sapuan kenangan tangannya yang membelai akrab
Aku melenguh di balik dipan dengan tangan memeluk setiap bekas tubuhnya

Dia, Ibuku…
Mengajarkan tentang mengatur kehidupan sedari dini
Tanpa restunya, seolah duniaku dikelilingi bencana
Tak perlu bersuara, apalagi berteriak memberitahu alam bahwa aku mencintainya
Sebab, hatiku terlanjur menciut ketika nafasnya semakin menipis, aku tak berada di sampingnya dan mengantarnya memeluk Tuhan

24 Desember 2017

Uncategorized

Seakan-akan Kita Enyak pada Hidup Tak Bersyarat

Seakan-akan kita enyak pada hidup tak bersyarat
Kita sibuk menyekat cinta yang diturunkan Sang Penyelamat manusia
Lihatlah! Pagiku yang kerontang sepi
Melebur perasaan yang t’lah lama terkubur dalam pertarungan luka
Egois macam apa yang akan kita tampakkan di depan wajah peneduh harap?
Tak ‘kan malukah sanubarimu karena ikut pergi meninggalkan secercah parau dari inti sel hati kecil ini?

Seakan-akan kita enyak pada hidup tak bersyarat
Mimpiku yang penuh arti,
kini layu dari buaian terhisap mati
Ajal dari belahan hati menumbuhkan ironi
Petualanganku akan sia-sia dari kesempatan menjelajah ragawi
Mengitari kesempatan yang pupus–sunyi
Sampai riwayat jejakku memerah matang dan menyembul atas nama suciku
Aku akan berjalan-berbelok dari singgasana, kemudian memendekkan episode petualanganku dalam satu hari bersamamu

Uncategorized

Aku Bukanlah Ilusi

Di bawah pohon yang hampir tua,
kaki-kaki kita saling mengetuki rumput yang basah dan beraroma embun
Mata kita ditetesi air yang menggelinding jatuh dari dedaunan di atas kepala
Telapak tangan yang kasar mulai menyapu sebagian wajahku yang bersemu
Menutupi sebagian rasa malu dan menyeruput hening di bibir
Aku tak bisa menahan ayunan irama dari detak jantung yang semakin kencang
Aku dirundung kesepian atas kepergian Aku-ku yang rupawan

Berhetilah…
Berhentilah menebak-nebak
Aku bukan lagi berwajah ilusi
Namun, entah nyawamu selalu menafikkan kenyataanku
Sampai fisikku semakin kusam tersapu waktu
Dan bau rambutku yang khas atas sengatan matahari yang tak bertanggung jawab
Kuku-kuku meleleh hingga menjelma menjadi stupa yang terinjak kaki-kaki kita yang bersebelahan
Sungguh, aku bukan ironi dari hutan belantara
Yang menyambangi logika dan mengaduk-aduk kuasa Tuhan

Mestinya kau tahu kalau aku bukanlah ilusi