[Sajak] Kami Datang

Kami datang
Untuk menyambut petang dengan hati yang terbelah
Oleh pisau yang menumpul dan berkarat
Telinga kami mungkin sudah tuli
Dan kepala-kepala yang tidak berdosa mungkin t’lah dipenggal
Sebab mereka dicurigai

Darah-darah tak pernah henti menetes
Dari sisa-sisa kenangan
Yang dihantarkan udara
Mengenai bau amis yang mengumpat di bawah rerumputan
Sungguh aroma yang menyulut pemberontakan

Sudah ratusan tahun kami merindukan jasad nenek moyang kami, percuma saja
Meski kami bergotong-royong
Berbicara hingga mulut mencong
Jari-jari terpotong
Dan gigi kami ompong
Sejarah tak ‘kan pernah datang menghampiri-memeluk-merayapi tubuh kami

Kami datang
Karena waktunya t’lah tiba
Untuk melantunkan ayat-ayat suci
Hingga mulut kami terasa kering

Kami datang
Dalam malam yang lengang
Kami bukan pahlawan
Tapi hanya mencari keadilan

UPDATE 21 April 2017: Nama Peserta Lomba Menulis Cerpen “Sisi Lain”

Halo, sahabat pena yang hebat dan kreatif. Berikut adalah nama peserta yang sudah mengirimkan naskah cerpen terbaiknya:

1. Afendra
2. Ana Risma Nanda
3. Atika Rahmawati
4. Rahmi Ritonga
5. Elma Sukma Nugraha
6. Elsa Dilla Hurnia Sari
7. Fajar Arief Utomo
8. Fiana Shohibatussolihah
9. Fivi Dieniyanti
10. Ita Yunita
11. Legiyani Dewi
12. Mazaya Nisrina Minhalina
13. Muhammad Nizar zulmi
14. Nadia Salvira
15. Naufal Riyandi
16. Novita Rahmayanti
17. Nyajiwi Ayu Purwaningsih
18. Qonitah Ghoniyyah
19. Reni Nuryati
20. Rifna Merisha
21. Sigit Wibowo
22. Silmi Amiruna
23. TM Farhan Algifari
24. Umi Nur Hidayati
25. Vinny Shoffa Salma
26. Yasmin Aldira
27. Yuli Yanti

Salam hangat dan cinta,
Fiction Project Community

Bukan Siapa-siapa

Aku bukan siapa-siapa bagimu
Memang bukan siapa-siapa
Enggan berkata, namun ini adalah sebuah elegi kesedihan
Haruskah aku berpura-pura tak melihat, sedang kau persis menghujaniku dengan kerinduan
Badan kita yang dipisahkan oleh doa demi doa
Untuk kesekian kali wajah kita dihadapkan menuju negeri antah berantah
Bersumpah serapah
Menelaah keangkuhan dalam mengakui denyar-denyar amarah yang membuncah
Pembuluh egoku pecah
Mencecap ubun-ubun hingga jentikku
Dan dipersembahkan demi kedamaian langkah kita masing-masing

Aku bukan siapa-siapa bagimu
Masih bukan siapa-siapa
Mungkin kelak kita akan menganggap kalau ini adalah persetubuhan emosi
Sampai watak kita melunak menggayut lincah dalam mimpi-mimpi kita yang bersebelahan
Sampai syair yang kita embus terserap sebagai kenangan yang melukai hati
Sebab masa depan t’lah menertawai masa lalu dari kejauhan
Aku malu, sangat malu
Sebab aku bukan siapa-siapa di kehidupanmu

Lalu saat itu aku memadamkan percakapan kita
Sejenak, namun pasti
Membayar hutang rasa yg kita tebar tanpa makna
Entah cinta, atau kebodohan
Menjadi serba biasa
Dan kita melanggar untuk tidak bertatapan rasa
Juga perbarui seluruh prasangka
Apakah mesti kuceraikan kecemasan dan air mata ini?
Padahal aku tak pernah menolak jika ruhmu adalah takdir bagi perjalananku yang berjarak
Biarlah aku menjadi bukan siapa-siapa bagimu
Tetaplah begitu…
Bukan siapa-siapa

Selamat Petang

Senja larik menukas kisruh karuan
Aku hening tertindas masalah jemu-jemu layu
Di dalam kamar, di bawah tempurung hujan lambai
Aku rapuh gentar menghela nafas parau

Gitar kudekap
Dawainya kugerai agar terdengar semampai
Aku lagi-lagi dibuat menjalar di atas tikar yang setiap helainya lembut terlerai

Ini jiwa, ini sampah
Manakah yang benar?
Manakah yang palsu?
Surga hanya terbuat dari serpihan kebaikan
Dan neraka terjerembab menyibak halai-balai para pendosa

Bestarilah seperti bunga yang mekar
Di garis yang kuketahui hanya sebuah makar
Karena penindasan
Tak berujung sumbang, berkayuh parang
Hari ini, kuucap, “Selamat petang.”

Sajak Si Penari Blantek

Menarilah, kau gadis cantik!
Ya, menarilah!

Manik-manik berkilauan
Dan rompi kuning yang cerah semringah

Gincu merah, bibir merah merekah
Dan selendang yang terikat di pinggul

Aduhai…
Semampai…
Gemulai…
Oh, ingin sekali kukecup keningmu

Setu, 26 Februari 2017

Aku, Kau dan Anak Kita

Aku, istrimu dan ibu bagi anak kita
Purnamaku hanya untuk bersemi pada harapan selaras dengan kasih yang akrab
Diramu dengan keramahan yang terpancang pada warna-warni samudra
Bergegaslah aku merebahkan kepiawaianku dalam menjaga kerenyahan alam rumahku
Dari dalam maupun dari luar lapisan tembok yang mendindingiku, kau dan anak kita

Kau, kau yang sedari dulu menghiasi hujan dan kemarauku dengan pelangi tak berkesudahan
Bertengkar pada sekutu-sekutu lama yang menghias mataku dengan tangis darah
Merenggut jiwa yang tinggal bersama dalam satu senyawa
Kauku, milikku hingga kita bersua dalam Jannah-Nya

Anak kita, tumbuh tangguh menatap lurus hingga ke dalam hutan, puncak-lereng gunung maupun palung laut
Dan asteroid yang berjejalan di antara planet-planet
Mengais pilu kelabu di atas pundaknya
Lalu menggantinya dengan kebaikan
Namun, lihatlah sejenak, kelak anak kita akan bertemu dengan gadis-gadis yang merona pada pipinya
Anak kita t’lah masyhur di kotanya

Aku
Kau
Anak kita–
Kelak cerita kita ‘kan menjadi sebuah syair