Uncategorized

Mimpi Hebat: Penulis Hebat

​“Pemikiran yang tanpa dituliskan hanya akan jadi buah bibir, yang kian lama hanya akan jadi sayup terdengar. Sementara tulisan, akan bertahan lebih lama dan tetap akurat.” —Irvan Mulyadie.

Saya biasa dipanggil Kanana, atau lengkapnya Kanana Ibra (Nama Pena). Menulis merupakan sebuah kegiatan yang memang mesti diiringi dengan hasrat yang gila dan tidak setengah-setengah untuk menuangkan perasaan, pikiran atau ide, setelah itu harus berani dan percaya diri kalau tulisannya itu akan dibaca oleh orang lain. Kenapa harus dibaca orang lain? Sebelum saya jelaskan panjang lebar kenapa tulisan kita harus dibaca oleh orang lain, saya mau berbagi kepada teman-teman tentang macam-macam pembaca yang saya peroleh dari ketika saya mengikuti seminar kepenulisan di daerah Bogor. 

Pembaca ada yang terdiri dari orang yang suka membaca, ada juga yang tidak suka membaca. Dari kedua jenis pembaca tersebut, kita akan mendapat respon yang jelas berbeda terhadap tulisan yang kita buat. Agar menjadi suatu perbandingan (respons pembaca 1, 2 dan berikutnya) dan evaluasi terhadap tulisan kita di kemudian hari. Adanya pro dan kontra yang mencuat dari respons tersebut, tentu menjadi cambuk bagi penulis untuk selalu meng-update dan meng-upgrade diri agar tulisannya dapat bermanfaat, menghibur, dan mendidik (sifat sebuah buku atau tulisan). 

Nah, bagaimana dengan seorang pembaca yang profesinya sebagai penulis. Ini yang membuat saya lebih gugup ketika mendapati respons dari mereka. Pembaca yang satu ini berada pada level tertinggi dari pembaca-pembaca sebelumnya. Selain ia akan terhanyut oleh isi tulisan kita, ia juga akan mengamati. Bisa saja terdapat tanda baca yang kurang pas, cerita atau tulisan kita kurang menarik, harusnya menulis tema ini supaya menarik minat pembaca, dan lain-lain.

Kembali kepada diri sendiri, saya yakin dengan mengkuantitaskan diri, memperbanyak baca serta melatih diri untuk terbiasa menulis, suatu saat saya bisa mencapai kualitas yang saya dambakan, menjadi seorang penulis yang gak sekadar menulis “status” pada jejaring sosial, yang menyatakan bahwa saya sedang “BETE” alias badmood terhadap sesuatu. Saya ingin dalam tulisan saya, ada sebuah pesan yang bisa diambil oleh banyak orang, inspiratif, kalau bisa membikin orang lain merasa geregetan (positif) saking ingin membaca tulisan kita yang selanjutnya.

Terinspirasi dari seorang Pramoedya Ananta Toer, bahwa: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Ya, saya sepakat kalau tulisan itu abadi, bertahan lama bahkan akurat, tidak akan pernah hilang seperti halnya sebuah buah bibir saja, seperti kata Bung Irvan Mulyadie (Penyair). saya ingin seperti beberapa teman saya yang sudah dahulu gila dengan dunia kepenulisan. Contohnya Faisal Bahri (IG: @faisalbahri90), dia adalah calon suami saya yang sudah jauh lebih dulu berkutat dengan dunia aksara. Dia merupakan orang pertama yang mengajak saya untuk lebih minat dan berproduksi dengan cara menulis. Sajak-sajak yang dibuatnya sangat indah; bagus; kelas banget. 

Selanjutnya saya tidak diam saja, saya mulai mengikuti kelas menulis online. Kelas tersebut dimiliki oleh seorang penulis yang ketika saat itu dia berbagi pengalamannya menulis. Bahwa seorang penulis tidak harus berasal dari keluarga penulis, tidak harus berasa dari jurusan sastra dan sebagainya, tidak mesti pula mengikuti seminar atau kelas menulis yang mahal, karena apa yang disampaikan seorang pemateri (Mentor Menulis) kemungkinan besar bisa diperoleh juga dari buku-buku, workshop, maupun artikel-artikel di internet. Dari hal tersebut, saya jadi semakin semangat untuk menulis. Dimulai dari menulis sajak hingga sekarang. Sajak-sajak saya dapat di lihat di blog: http://kanana1009.wagomu.id

Untuk menjaga semangat saya, saya mulai membuat komunitas sekaligus kelas menulis fiksi online: Fiction Project Community. Dengan tujuan awal saya yakni belajar dari orang lain yang memiliki hobi yang sama, yaitu menulis. Tanpa mengesampingkan profesi saya sebagai seorang guru Sekolah Dasar, saya ingin tetap menulis. 

Penulis yang bagus adalah pembaca yang rakus. Dengan project baru saya yaitu novel, saya saat ini tengah mencoba konsisten terhadap diri saya untuk menulis sebuah novel. Tidak mudah! Butuh kesabaran, jelas. Karena ini pertama kali saya meyakinkan diri untuk menulis novel. Harapan besar saya, novel saya bisa tembus hingga ke publisher, kalau perlu mayor publisher. Mempunyai sebuah karya yang bisa dicetak dan dibaca banyak orang merupakan mimpi terbesar saya. Saya tidak berhenti belajar dan banyak membaca tulisan-tulisan terbaik dari sang Masterpiece. Dan saya juga berharap teman-teman yang belum merasakan betapa nikmatnya menulis, akan segera manarik diri untuk menulis dan enyak dalam peraduannya. Tabik!

Nb: Tulisan ini dimuat dalam buku The Dreams Diary Part 1 oleh Y Dreams Way. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s