Uncategorized

Berani Berapi

Seperti sebuah tekad yang dituliskan pada patung yang dipuja penganut dewa
Menguasai pikiran seluruh cendikia
Bukan untuk menantang maut kepunahan ilmu pengetahuan
Kita yang belajar bersemi mengangkat sebuah roda yang bergulir lincah pada proses belajarnya
Kita yang berani merangkum perjalanan hidup para filsuf untuk dimakan sebagai nutrisi otak manusia

Kalau kabut bisa ditangkap demi mengubah awan yang bersembunyi,
menyelundup dan menggelapkan harapan kaum milenial
Demi sebuah teori yang dahulu muncul dan menggembar-gemborkan akal manusia
Menjadi sebuah udzur ‘tuk menaikkan derajat kehidupan si jelata

Dan kita yang nestapa karena sibuk berkaca pada cermin bumi yang tua
Namun tak pernah mau menyiraminya agar kian segar dan berwarna
Mungkin yang kita butuhkan adalah sebuah penyegaran
Yang ketika esok kita mampu menyeringai membebaskan mulut dari kekeluan

Beranikah kita menyudahi tangis akan lahar yang mengering juga api yang padam?
Dalam setiap butir semangat yang tersembur keluar dari hati
Dalam jiwa yang berapi akan memperbaharui keharmonisan dunia
—semesta
Pada hari itu, mungkin kita mulai boleh menanggalkan malu untuk berani berapi

Advertisements

2 thoughts on “Berani Berapi”

  1. “Kita yang berani merangkum perjalanan hidup para filsuf untuk dimakan sebagai nutrisi otak manusia” merasa awkward pada bagian ini hehehe. Seperti halnya puisi, selalu membawa nuansa multi tafsir untuk pembacanya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s