Menulis Buruk; Pengalaman yang Berharga

Menulis Buruk 2


“Orang yang tidak pernah melakukan kesalahan biasanya tidak menghasilkan apa-apa.”
–Edward John Phelps (1822-1900), Diplomat dan Ahli Hukum Amerika

Saat itu saya sedang membaca buku yang berjudul Creative Writing karya A.S. Laksana di Perpustakaan Daerah, Cikarang Utara. Ada salah satu bab dalam buku tersebut yang menurut saya menarik, yaitu tentang “Menulis Buruk”. Sebelumnya yang saya ketahui hanya istilah menulis kreatif, menulis indah, menulis cepat, dan lain-lain. Namun, kali ini berbeda dengan menulis buruk.

Seperti para penulis lainnya, A.S. Laksana mengungkapkan bahwa untuk menjadi penulis yang baik dan memiliki karya yang bagus sudah barang tentu memerlukan latihan yang disiplin dengan menulis, menulis dan menulis.

Kembali pada bahasan “Menulis Buruk”, saya sempat bingung dengan maksud dari hal tersebut. Apakah saya akan diarahkan untuk menulis sesuatu yang berantakan, sehingga tulisan saya tampak buruk? Well, jika tulisan saya yang terdahulu dibandingkan dengan tulisan saya yang sekarang, maka akan terlihat perbedaannya yang jauh sekali.

Saya percaya dengan istilah “Kuantitas Menumbuhkan Kualitas”. Kenapa demikian? Semakin banyak menulis, saya akan terlatih dengan sendirinya. Tapi, jangan pernah lupakan untuk mendisiplinkan diri dalam aktivitas membaca.

“Pembaca yang baik memiliki kekayaan imajinasi, ingatan, kosakata, dan sejumlah kepekaan artistic” –Vladimir Nabokov (1899-1977), Penulis Amerika

Semakin banyak membaca, saya yakin kalau saya tidak akan mudah kehilangan ide dalam menulis. Di zaman yang semakin canggih seperti ini, mudah bagi saya untuk akses segala sesuatu yang berhubungan dengan teori kepenulisan. Yang membedakan adalah kemauan untuk berlatih—menulis.

Semakin banyak meningkatkan kuantitas menulis, semakin berkembang kualitas menulisnya. Kalau A.S Laksana saja pernah mengalami yang namanya menulis buruk, yaitu ketika pertama kali ia menulis. Kala itu, ia langsung mendisiplinkan diri untuk membuat outline atau kerangka tulisan sebelum menulis. Dengan tujuan agar tulisannya lebih terarah dan rapi. Bahkan outline pertamanya saja berantakan, berikut yang ia tuturkan dalam bukunya yang berjudul Creative Writing.

Jadi, menurut saya setiap penulis pasti mengalami proses menulis buruk—proses yang mengantarkan mereka pada suatu kondisi yang membuat diri para penulis untuk disiplin menulis, serta mengkualitaskan tulisan. Menulis buruk adalah proses yang lebih baik dilakukan daripada tidak menulis sama sekali. Setuju?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s