Puisi dan Sajak, Sajak

Berparadoks

Kita berparadoks di hadapan Tuhan
Bersilat doa dalam sembahyang
Mengingat masa-masa binal berkelindan menyeruak selongsong badan
Seperti suara sendok-garpu yang berdentingan pada makan malam kemarin
Ya, mengingatkan masa-masa binal
Dan cahaya langit mengisyarat isi bathin
Seakan-akan berkata paradoks—
Di satu sisi, ucapan seolah melingkungi perbatasan antara kebaikan dan kejahatan;
di sisi lain, senyuman keresahan tersungging berdekat pada alam kebodohan pikiran

Kita terserat dalam bijana; terkurung dalam fatamorgana
Berselir mendambakan arwah keniscayaan elok buana
Hampir-hampir jantung kita berdebam sirna
Berbalut kain sutra dari urat-urat ketulusan memeluk hawa temaram berkelana
Lalu, masing-masing jiwa menipu dirinya dengan segala peraduan lisan
Lalu, masing-masing nafas membohongi lubang dalam paru-parunya, dan memberikan udara yang memengapkan
Kita mengakui—berparadoks di hadapan Tuhan

Cikarang,
30/05/2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s