Puisi, Sajak

Noktah Rasa

Sebilang larikku tentang cinta daripada kau tak bertujuan
Mungkin aku harus beruntai-landai ‘tuk berganti wajah kejamku sepekan
Ilusiku mendelik kelimpungan
Atas moncong jiwaku mengusap selongsong badan
Berharap menyapa partikel ingatan–perumpamaan
Aku sadar akan…
Undakan rinduku menyibak pandangan
Sedu sedan

Puisi, Puisi dan Sajak

Dua Bait dari Hati

Roda kehidupan memang tak pernah berhenti berputar
Sepatutnya masa lalu kelam kita kubur di bawah semak belukar
Di sana, di pelupuk matamu terlihat balai pancapersada tertutup besuta yang berpinar
Kupertajam medan penglihatan yang hendak berpendar
Doa-doa yang terayun lembut mengusap pelipis dan sukma hingga bergetar
Akankah nadi-nadi kita berupaya merekatkan pesona yang semakin melebar?

Di malam itu, kita menutup mata di bawah bintang yang terjatuh di ujung negeri sana
Gelagat tulang yang gemeretak kedinginan, hipotermia seperti di kutub utara
Merindukan pori-pori yang melekat-menyatu dalam pelukan beraroma
Mempergundah bulu kuduk yang semakin menegang rindu ‘tuk berdua
Namun, suatu saat kita enyak menabur kepuasan atas sukaduka
Sampai akhirnya kita melupakan usaha memaafkan kekhilafan diri yang menua

Uncategorized

Berimajinasi dengan Diksi dalam Puisi

Oleh : Da’iyatul Huda

Kebanyakan orang suka dengan puisi yang bernada romantic, namun tidak dengan membuat puisinya. Mereka lebih sering meng-copy karya orang lain dibanding dengan membuat karya sendiri. Dalam hal puisi, mereka sering kesulitan dalam membuat diksinya sehingga mereka putus ditengah jalan, padahal tinggal beberapa langkah lagi.

Puisi itu indah. Karena dia mewakili rasa yang tersemai dalam dada. Kebanyakan orang yang menulis puisi ialah mereka yang sedang benar-benar mengalami masa dimana mereka bahagia, terluka, sedih, dsb. Karena itu mereka akan mudah mengungkapkannya dalam bentuk puisi.

Sebelumnya, puisi itu apa sih? Banyak para sastrawan yang mendefinisikan arti dari puisi itu sendiri. Menurut H.B. Jassin, puisi adalah sebuah pengucapan dengan sebuah perasaan yang di dalamnya mengandung sebuah fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggapan. Sedangkan menurut Sastra Sudjiman, puisi adalah sebuah ragam sastra yang bahasanya terikatoleh sebuah irama, matra, rima, serta sesuatu penyusunan larik dan bait.

Sebenarnya membuat puisi itu mudah. Yang susahnya adalah kitanya aja yang tidak mau mencoba. Mencoba, mencoba, dan mencoba insya Allah bisa. Menulis, menulis, dan menulis insya Allah jadi penulis paling puitis.

So, bagaimana sih caranya membuat puisi dengan diksi yang tepat dan indah? Okay, di sini saya akan memaparkan cara-cara bagaimana membuat puisi dengan diksi yang tepat dan indah. Di antara cara-caranya adalah sebagai berikut.

Sebelum membuat puisi, carilah ide yang pas dengan keinginan hati, Supaya tidak mogok di tengah jalan saat pembuatan puisinya.
Usahakan pengusaan kosakata bahasa Indonesiamu sudah luas, supaya mudah dalam merangkai kata-katanya. Bagaimana jika masih kurang penguasaan kosa katanya? Gampang! Caranya?

Pertama, kita ambil beberapa kata dasar, yaitu:
Bentur, Hilang, Patah.
Jumlah kata dasar minimal 3, boleh 4, 5 dan sebanyak-banyaknya.

Kedua, dari ketiga kata dasar ini kita kembangkan menjadi:
Bentur (Perbenturan; Membentur; Kebentur; Membenturkan; Berbentur).
Hilang (Kehilangan; Menghilangkan; Dihilangkan).
Patah (Mematahkan; Dipatahkan). Dari yang awalnya hanya memiliki 3 kata, sekarang memiliki 13 kosakata.

Ketiga, ambil kata sesuka kamu untuk dimasukkan ke dalam bait puisi, contoh:

Ketika malam t’lah menemukan perbenturan wajah dan maklumatku sendiri
Sedangkan badan kehilangan ruhnya
Sampai tulang rawannya patah
Dipatahkan oleh kemaluannya sendiri
Hingga beribu urat terputus
Hilang dari pusaranya
(by: Kanana Ibra)

Untuk membuat diksi gabungkan dua atau tiga kata dengan kata kerja/kata sifat. Contoh: mengutuk rindu; mengutuk kerinduan.
Sebelum karyanya dikirim ke media, harap cek dulu kata per kata dengan menggunakan KBBI supaya tidak ada kata yang salah maknanya.

Mudah kan caranya? Tinggal kita mempraktikkannya aja. Sesuatu yang dilakukan karena kebiasaan, maka kita akan terbiasa dengan hal itu. Jadi, biasakanlah kita untuk menulis, karena suatu hari kita akan terbiasa untuk menulis dan menjadi salah satu kebiasaan kita.

Puisi, Puisi dan Sajak

Puisi Gila

Ronamu terkadang membutakan urat pada mataku
Sehingga aku tak payah melihat jelas dalam pandangmu
Karena sudah tentu kamu enyak dalam benak dan sukmaku
Sebagai manusia yang suci mencintai tanpa menipu

Sampai dada kita layu dan berhenti berkatup-katup
Seakan-akan membersamai lepasnya isyarat hati yang lincah meletup
Kamu selalu menyengajakan diri agar terjatuh dan menelungkup
Di pelukanku, dengan baumu yang nyaman kuhirup

Sesekali kakiku melangkah memburai lengangnya kota
Menuju titian awan di atas mata
Yang kemarin sore kita berdua lesapi sampai meronta
Di situ kutumpahi wajahmu dengan tetesan kenikmatan permata
Sampai akhirnya kamu selalu meminta

Bukan hanya kucintai ragamu
Tapi juga seluruh persendian jiwamu
Yang melepas dahaga ketika aku merasa binal di kala malam menjamu
Aku ‘kan merayumu
Hingga pagi, ‘kan kulihat wajah kita tetap bersemu

Ini tentang kegilaanku yang mencintaimu
Ini tentang syahwatku yang menelanjangi badanmu

Aku menikmati suasana ini
Meskipun sampai mati

Puisi, Puisi dan Sajak

Avontur Rasa di Balik Kepalamu

Kerlingan matamu menyuguhkan rasa yang amat terhormat
Sedangkan aromamu memeluk hingga ke spina servikalku
Maklumatku yang cukup berharga atas dasar kucintai jiwamu
Ini bukan persoalan duri di dalam daging yang lugu
Yang mengungkap tabiat lamat-lamat
O, sungguh aromamu melekat dan melebur dalam sumsum tulang belakangku
Macam mana aku hendak meneduhkan ruh perasaanku yang hebat?

Meski 1000 tahun lagi kita hidup, sampai gigiku ompong
bahkan keutuhan rasaku padamu tak berubah wujud jua
Bahkan saat para biarawati memangku rasa malu pada tengkukku yang mengilap
Sekelebat bayanganmu menggelinjang dalam tempurung kepalaku menyilap
Menghantui seluruh persepsi yang melanda dalam nafsu berahi berdua
Yang hanya berujung keramat khayali; kosong melompong

Terkesiap dalam wujud arkais
Menyelinap dan menelaah lobus frontalku sampai habis
Terlalu lama kupendam cincin kebahagiaan yang kupatri berma mengais
Terlalu lama kukubur prisma asmara ini dan kubawa lari hingga hampir apatis
Terlalu lama kuhirup udara gersang kemarau bersenda gurau menangis

Maka, kelak aku akan mati membawa sisa rasa dan karsa ‘tuk memilikimu
Maka, ketika air mukaku dihadapkan dengan anak cucumu, tampaklah perih
Pernahkah kau mau membalikkan kepala ‘tuk menengok rasaku?

Puisi dan Sajak, Sajak

Berparadoks

Kita berparadoks di hadapan Tuhan
Bersilat doa dalam sembahyang
Mengingat masa-masa binal berkelindan menyeruak selongsong badan
Seperti suara sendok-garpu yang berdentingan pada makan malam kemarin
Ya, mengingatkan masa-masa binal
Dan cahaya langit mengisyarat isi bathin
Seakan-akan berkata paradoks—
Di satu sisi, ucapan seolah melingkungi perbatasan antara kebaikan dan kejahatan;
di sisi lain, senyuman keresahan tersungging berdekat pada alam kebodohan pikiran

Kita terserat dalam bijana; terkurung dalam fatamorgana
Berselir mendambakan arwah keniscayaan elok buana
Hampir-hampir jantung kita berdebam sirna
Berbalut kain sutra dari urat-urat ketulusan memeluk hawa temaram berkelana
Lalu, masing-masing jiwa menipu dirinya dengan segala peraduan lisan
Lalu, masing-masing nafas membohongi lubang dalam paru-parunya, dan memberikan udara yang memengapkan
Kita mengakui—berparadoks di hadapan Tuhan

Cikarang,
30/05/2017