Nanar Omega di Puncak Jenggala

Desal bertaruk mematahkan senja
Memoar membelai kasta nurani yang bersahaja
Lesap birahi bermandikan manja
Kutengok kirana yang berpendar, lalu meredup hampa memuja

Mematung dalam nanar
Menyelir sisa kenangan yang terbakar dalam semak belukar
Omegaku berputar-putar

Ini bukan sekadar adverbia
Atau aku hanya menyesal dalam fobia
Di puncak jenggala, kukelir usia
Di puncak semesta, kucerai mulia
Bisikanku teramat frontal bagi isi kepala manusia
–sudah biasa

Nanar omega di puncak jenggala
Meluruh alam kubagi bianglala
Agar setiap titik kehidupan ‘kan bermula
Dan udara yang hambar, memecah belah situasi seperti sediakala

Meskipun uratku t’lah mengejang-membiru
Kusematkan sedikit lagi nanar dalam kelabu
Supaya ia tahu,
biarlah aku…
Ah, sudahlah! Ini semua ‘kan berlalu

Cikarang,
24/05

Semua Tak Pernah Berujung Jua

Mengejawantahkan rasa menjadi luar biasa
Dari setiap pertemuan yang berujung semu
Engkau bersanding melunak di samping pusara rasa
Aku berkesempatan memilikimu

Kini, aku tertawa terbahak-bahak
Mengumpat menyembilu di balik tambak
Sekuat tenaga kuberjalan di atas titian harap
Dengan dada terengap-engap
Meninggalkan cawan yang berisi api kepiluan dari hari-hari kemarin
Darahku mendidih memanas seperti seribu lilin

Semuanya tak pernah berujung jua
Bahkan ketika cahaya matari yang di ujung barat menyinari semua
Bahkan ketika anganku dan anganmu berdua
Tak pelak harapku menyua

Semuanya tak pernah berujung jua
Biarkanlah…
Diriku tersamar pukau menyembah
Dengan peluh terus bersimbah
Ah…
Semua tak pernah berujung jua

Masa dan Rasa

Minggu pagi berduka rasa
Siapa hendak mengusap hati
Kita tahu singkatnya masa
Perbaiki segala yang menyangkut diri

Siapa hendak mengusap hati
Berdekat jarak dalam angkasa
Kita memutuskan berlepas jari
Jangan sampai menjual asa

Berdekat jarak dalam angkasa
Meruntun ruh yang begitu naif
Hidup dalam masa dan rasa
Maka nikmatilah perhelatannya yang arif

Meruntun ruh yang begitu naif
Sedang raga tak kunjung ubah
Kalau dunia memberi asa
Biar kita bersua di Jannah

#seloka
#puisilama

Kontributor Terpilih untuk Antologi Cerpen “Sisi Lain”

Salam hangat dan cinta untuk para penulis hebat dan kreatif.

Terima kasih banyak atas kontribusinya di Lomba Menulis Cerpen “Sisi Lain” oleh Fiction Project Community. Dengan sangat menyesal, kami memberitahukan bahwa kami harus mengurangi jumlah naskah yang terpilih menjadi 45 naskah dari 149 naskah yang masuk. Tentunya ini menjadi keputusan yang sangat berat mengingat cerpen-cerpen yang masuk adalah cerpen yang bagus dan menarik ceritanya.

Namun, tentunya kami menilai tidak hanya dari segi isi ceritanya saja, tetapi juga apakah penulisan cerpennya sudah sesuai dengan format yang tertera pada info sebelumnya atau tidak.

Hari ini, kami ingin memberitahukan ke-45 nama penulis yang naskahnya terpilih, antara lain:

1. Afendra
2. Agistina Sekarini K
3. Alvi Lailatil Qodriatus Sholihah
4. Amir Mujahid
5. Ana Risma Nanda
6. Andini Pradya S
7. Anditia Nurul
8. Anjar Retno Rahayu Lestari
9. Aulia Khalil Hardiansyah
10. Azka Mahfudh
11. Bandi
12. Bella Havana Yushindiyanti
13. Dede Riyan Mulyana
14. Delfi Kiranti Atmasari
15. Dennisa Awwalia Harahap
16. Ditta Fania Budianti
17. Elok Rosikhotul Fawazah
18. Fajar Arief utomo
19. Febhy Syafri
20. Hartini
21. Hilda Fauzi
22. Ivan Agastya
23. Izzah Uswatun Nisa
24. Jeri Lorenza
25. Jyesta Rajnikanyaka
26. Legiyani Dewi
27. Luluk Eka Wardhanni
28. Melisa Tristie Angelina P
29. Merinda Lounita P
30. Moch. Muzayid Chasbullah
31. Muhammad Yusron
32. Nadia Ayunda Putri
33. Naufal Riyandi
34. Nyawiji Ayu Purwaningsih
35. Rahma Khoirunnisa El Fahmi
36. Safa Alya Nabila
37. Sandy Anggur Pertiwi
38. Shafa Nur Falikha
39. Siti Zulia Agustina
40. Sulistia Ningsih
41. Syaumi Khoirun Nisa
42. TM Farhan Algifari
43. Vinda Adya
44. Vinny Shoffa Salma
45. Yuli Yanti

Untuk ke-45 peserta di atas, diharap untuk mengkonfirmasi kontak PJ Event kami, yaitu Kanana Ibra, mengenai profil kalian sebagai penulis ke No. 089604352134 (Whatsapp).

45 naskah ini akan segera kami proses terlebih dahulu untuk dilakukan self editing, dan akan dibukukan bersama cerpen berjudul Sisi Lain karya Kanana Ibra.

Kepada penulis yang belum terpilih, jangan berkecil hati, siapa tahu nama kalian akan terpilih di event berikutnya. Tetap semangat menulis; semangat berkarya!

Fiction Project Community

NB: Seluruh peserta dapat E-Sertifikat yang akan kami infokan bersama pengumuman pemenang pada tanggal 17 Mei 2017, pukul 20.00 WIB.

Memperluas Kosakata dalam Menulis

#tipsmenulis

STUCK MENULIS?! Sekarang enggak lagi.
Hal yang paling sering dijumpai oleh penulis adalah situasi ketika kehilangan ide dalam menulis. Terutama bagi penulis pemula, mungkin akan menjadi hal yang menakutkan apabila tulisannya menjadi gatot alias gagal total akibat kebingungan hendak menulis apa lagi.

Menjadi seorang penulis sangat penting untuk memperbanyak perbendaharaan kata. Para penyair biasanya sering memainkan kata-kata dalam karyanya dengan tujuan agar pembaca tidak bosan dengan kata-kata yang bisa dibilang mainstream.

Berikut ini ada tips sederhana yang mudah dan asyik untuk memperluas perbendaharaan kata.
Pertama, ambil tiga atau empat kata dasar yang akan dikembangkan. Contoh:
Jalan, berjalan, menjalani, menjalankan
Suka, disukai, menyukai
Makan, dimakan, memakan
Rusak, dirusak, merusak

Kedua, setelah mengembangkan beberapa kata dasar seperti di atas, bisa dilihat kalau sebelumnya kita hanya memiliki empat kata, sekarang menjadi tiga belas kata. Dari kata-kata tersebut, sekarang bisa dimasukkan ke dalam tulisan. Perhatikan bait puisi di bawah ini.

Mereka Masa Depan

Dia berjalan
Alam berlalu dengan semestinya
Di bawah bulan yang disukai
Dan malam menepis angin
Jantungnya dimakan dingin

Esoknya dia berkelana
Menuju padang savana
Tuhan + para malaikat ikut menyaksikan
Menjemput sisa harapan yang dirusak ketidaksetiaan
Dan peluang yang dimakan bersamaan

Cikarang, 5 Mei 2017

Dari tiga belas kata, kini menjadi dua bait puisi. Semoga tips ini bisa membantu kawan-kawan penulis untuk mendapatkan kembali idenya.
Semangat menulis!

Menulis Buruk; Pengalaman yang Berharga

Menulis Buruk 2


“Orang yang tidak pernah melakukan kesalahan biasanya tidak menghasilkan apa-apa.”
–Edward John Phelps (1822-1900), Diplomat dan Ahli Hukum Amerika

Saat itu saya sedang membaca buku yang berjudul Creative Writing karya A.S. Laksana di Perpustakaan Daerah, Cikarang Utara. Ada salah satu bab dalam buku tersebut yang menurut saya menarik, yaitu tentang “Menulis Buruk”. Sebelumnya yang saya ketahui hanya istilah menulis kreatif, menulis indah, menulis cepat, dan lain-lain. Namun, kali ini berbeda dengan menulis buruk.

Seperti para penulis lainnya, A.S. Laksana mengungkapkan bahwa untuk menjadi penulis yang baik dan memiliki karya yang bagus sudah barang tentu memerlukan latihan yang disiplin dengan menulis, menulis dan menulis.

Kembali pada bahasan “Menulis Buruk”, saya sempat bingung dengan maksud dari hal tersebut. Apakah saya akan diarahkan untuk menulis sesuatu yang berantakan, sehingga tulisan saya tampak buruk? Well, jika tulisan saya yang terdahulu dibandingkan dengan tulisan saya yang sekarang, maka akan terlihat perbedaannya yang jauh sekali.

Saya percaya dengan istilah “Kuantitas Menumbuhkan Kualitas”. Kenapa demikian? Semakin banyak menulis, saya akan terlatih dengan sendirinya. Tapi, jangan pernah lupakan untuk mendisiplinkan diri dalam aktivitas membaca.

“Pembaca yang baik memiliki kekayaan imajinasi, ingatan, kosakata, dan sejumlah kepekaan artistic” –Vladimir Nabokov (1899-1977), Penulis Amerika

Semakin banyak membaca, saya yakin kalau saya tidak akan mudah kehilangan ide dalam menulis. Di zaman yang semakin canggih seperti ini, mudah bagi saya untuk akses segala sesuatu yang berhubungan dengan teori kepenulisan. Yang membedakan adalah kemauan untuk berlatih—menulis.

Semakin banyak meningkatkan kuantitas menulis, semakin berkembang kualitas menulisnya. Kalau A.S Laksana saja pernah mengalami yang namanya menulis buruk, yaitu ketika pertama kali ia menulis. Kala itu, ia langsung mendisiplinkan diri untuk membuat outline atau kerangka tulisan sebelum menulis. Dengan tujuan agar tulisannya lebih terarah dan rapi. Bahkan outline pertamanya saja berantakan, berikut yang ia tuturkan dalam bukunya yang berjudul Creative Writing.

Jadi, menurut saya setiap penulis pasti mengalami proses menulis buruk—proses yang mengantarkan mereka pada suatu kondisi yang membuat diri para penulis untuk disiplin menulis, serta mengkualitaskan tulisan. Menulis buruk adalah proses yang lebih baik dilakukan daripada tidak menulis sama sekali. Setuju?

Piramida Jiwa Alam

Atmosferku kalut marut
Padam jiwanya, rusak kalamnya
O, sungguh Tuhan t’lah memperingati, dahulu sekali
Mencakapi setiap keengkauanku melalui rakaat pada sepertiga malam
Muka kita dikuliti, sedang kaki mengajak berlari dan mengumpat di balik stupa
Mata kita jelalatan di alam ketapakan
Tunas-tunas madu kehidupan pergi dan sulit terganti
Ruh-ruh perawan hendak mati
Kemana mau berlari?

Daun-daun hijau berguguran, mengering dan renyah bila kau meremasnya
Di samping pohon tua ini, kita berkelakar-bersandar-bernalar tentang masa depan dunia
Cahaya matahari tampaknya sulit berkompromi, tahu bahwa di balik embusan angin yang mulai memanas, ada wajah yang masih bersedia diintip kepolosannya
Rerumputan mulai basah menangisi aku-ku yang sudah mulai menua
Ingin segera kembali pada pencintanya