Puisi

Ini Aku (Aku-Kamu)

Ini aku.
Bukan tentang aku-kamu sementara waktu.
Cukup aku yang berkisah menyembilu.
Aku duduk memaparkan kehidupan yang lapang.
Bukan pada orang yang sembarang.

Ini aku.
Tidak akan pernah ada jalan pulang untuk mengulang.
Karena semakin dua insan ingin meregangkan hati (berpisah), nyatanya semakin berkeinginan untuk kembali dan memperbaiki.
Dan apakah masih dengan perasaan yang serupa?
Atau aku akan benar-benar lupa.
Antara wujud dan rasa tak pernah sama.
Namun, menyuguhkan kenikmatan yang akrab.
Sungguh, itu bukanlah aku.

Aku ingin menceritakan sesuatu pada kamu.
Hanya sedikit saja.
Tapi berbekas pada relung hati.
Bahwa jalanku tak ‘kan lagi sama dengan langkahmu.

Tidak!
Bukan tentang perpisahan persahabatan.
Hanya dalam ruang yang berbeda, aku-kamu akan menuai harapan bersama.
Berdedikasi pada alam yang membesarkan impian.
Kali ini, aku tidak ingin mempersulit lidahku sendiri.
Hanya untuk mencapai fantasiku yang berduri.
Ini aku.
Sedang menyapamu.

Advertisements
Puisi, Sajak

Aku-Kamu adalah Cerita Sejak Lama

Tahukah kamu?
Aku melebih-lebihkan suatu kisah untuk memenuhi hasrat imajinasi;
Aku membatasi-menguranginya untuk hasrat privasi.
Aku ingin kamu tahu, kalau aku t’lah dipeluk oleh segenggam butiran fiksi, iya hanya segenggam saja, tidak banyak.
Pesonamu tidak akan terganti oleh karisma manapun di dunia ini.
Aku-kamu selalu menghirup aroma segar dari udara dan duduk di tempat yang sama.
Menyumpahi setiap denting jam agar tidak mudah cepat berlalu.
Masing-masing kepala kita memang tengah bercita-cita tentang masa depan.
Namun, kekurangan yang begitu arif dari dulu yaitu aku-kamu memiliki ketidakmengertian akan memaknai simbol-simbol dari cita-cita tersebut.
Aku merasa punah dan kering, sehingga mudah dienyahkan.
Aku tidak memiliki keberanian lagi untuk menatap mata-mata biasa. Namun, di balik pandangannya memiliki arti luar biasa. Entah cinta atau benci terhadapku.
Sebab aku sudah tidak mampu menafsirkan perbuatan seseorang.
Aku manusia paling biasa di antara manusia biasa yang berusaha berbuat lebih baik.
Kemampuanku terempas akibat mengeras dengan sendirinya.
Saking mengeras, aku tidak mampu menggunakannya–aku bodoh. Loozer!

Kalau saja setiap detik Tuhan memberi isyarat tentang baik-buruk perbuatan manusia;
Kalau saja setiap cermin di dunia akan berkata tentang nafsu bejat apa yang akan diperbuat oleh bayangan yang ada di dalamnya,
Mungkin semuanya akan baik-baik saja.
Tidak ada perjuangan;
Tidak ada ampunan;
Tidak ada surga dan neraka.

Aku bagai bocah kerdil yang emosional dan lari tunggang-langgang tanpa tujuan.
Bibirku pecah-pecah dan bahkan hingga berdarah.
Aku tidak terbiasa bernegosiasi pada hati sendiri tentang perumpamaan.
Padahal itu sangat baik, katanya.
Kupikir, itu hanya sebuah ketidakadilan atas ketidakmampuan menjaga diri sendiri.

Aku perlu penyejuk.
Demi keutuhan nuraniku yang semakin menipis dimakan sang waktu.
Terkadang, eloknya sang mentari sesekali mengintip aku yang tengah menangis dan mengais sikapku yang egois.
Aku enggan memiliki siapa saja di sampingku ini.
Karena kutahu, begitu besar resiko apabila seseorang t’lah tiba di posisi terdekatku.
Sesekali terancam akibat ketidakramahan pikiran yang keluar dari kepalaku.
Kita semua seperti orang asing.
Tapi, akulah yang paling terasing di benak kalian.
Aku ingin lari, tak mau ditertawai semua orang.

Tidak maukah kamu mengetahui apa isi doa terhadap diriku ini?
“Kenapa untuk diri sendiri?”
Ya, aku belum pantas mendoakan siapapun kalau diriku sendiri saja masih belum pantas memanjatkan doa untuk orang lain.
Apakah Tuhan akan mengabulkan doa dari manusianya yang berhati kotor?
Aku kelimpungan sementara.
Lalu, tak sadarkan diri di bawah neraca sumpahku sendiri.

Sedikit saja aku ingin diberi kesempatan untuk bernapas lega.
Aku lelah berdalih untuk membuktikan keinginanku yang tak tentu arah.
Sudah pasrah, melemah, tak ada semangat.
Aku selalu salah.
Bahkan semua orang meng-Iya-kan tentang sisi gelap hatiku.
Aku akan pura-pura lupa terhadap hasrat ingin mempertanyakan apakah kamu masih bersedia untuk bertahan atau sudah lelah.
Aku begitu naif mengakui rasa maluku sendiri.
Daripada kamu selalu mengingat luka lama dan berlama-lama merenungi sikapku yang teramat mengguncangkan batin.
Mungkin akan ada baiknya jika aku pergi ketimbang membiarkanmu terpaksa bahagia atas pengorbanan hubungan yang terlanjur dipertahankan.
Demi Tuhan, bahwa setiap air matamu itu begitu bening dan suci.
Dan air mataku yang begitu keruh ini, bukanlah dirancang untuk menarik perhatian siapapun. Sekejap saja bicara kepadaku tentang obsesi mencari tahu arti namaku (4 tahun lalu).
Aku meyakinkan diri kalau itu bukan apa-apa.
Itu bukan hal yang akan merobek langkah yang kuukir di kemudian hari hingga aku jatuh dan hancur berantakan, sia-sia.
Bukankah cinta bisa selalu ditumbuhkan (kembali)?

“Jatuh cinta suka menjelma kecemasan-kecemasan.” –Boy Candra.

Aku lelah menangisi kehidupanku yang tak pasti.
Cinta yang t’lah lama terpatri terlalu banyak hal yang tidak disepakati.
Kalau saja aku tahu bahwa hari ini adalah hari terakhirku menatap matamu yang polos nan menyejukkan, aku ingin cepat-cepat dipeluk olehmu. Itu permintaan terakhirku.
Bahkan, orang yang sedang terpuruk pun akan sekejap merasa bahagia jika dipeluk kekasihnya, aku-kamu sama-sama tahu itu.
Mari sama-sama mencerna kalimat demi kalimat ini.
Sebab aku menulis kalimat ini sambil mengelus-elus dada yang semakin sesak.
Dan jangan sesekali mendustai waktu.
Mungkin beberapa hari ke depan, hati aku-kamu akan merasa kesepian.
Aku ingin melepaskan segala kesusahanmu. Dan mulai mencintai setulus hati di dalam doa.
Tak peduli apakah bicaraku hanya sebuah bualan belaka, di pikiranmu. Tapi, ini nyata kuperbuat.
Sehebat apapun diksi yang kuucap, tetap saja aku tak mampu mengatakannya langsung di depan wajah bulatmu yang begitu indah pun nampak manis.

Ah, sudahlah.
Lagi-lagi aku terlalu lemah–melankolis.
Dan…
Tetiba, aku memakan sendiri perasaan yang Tuhan letakkan di balik dada suci ini.

Selepas itu, aku mati.
Tidak ada sambung cerita apapun lagi.

Selamat tinggal, kekasih yang amat suci–yang kucintai.

Puisi

Dia, Ibuku

Dalam sehari yang hening namun tenteram
Enyak sudah cahaya yang selama ini menjalar di pipi seorang yang baik hati di setiap pagi
Dia, Ibuku…
Sebab dialah yang selalu buatku merajuk tentang kasih sayang
Dia yang mengajarkan untuk mengendurkan saraf-saraf pada tanganku yang mengepal
Dia, Ibuku…

Tuhan selalu mendekap hatinya yang lemah
Disatukannya kekhawatiran akan keselamatan dan kejayaan atas diriku dalam wajahnya yang fana
Dan kutahu, dari setiap tetes hujan yang turun dan melambai pada jantung hati, tangisnya selalu mengumpat di balik doa-doanya yang ramah
Menggetarkan permadani angkasa yang saling merekat melindungi buminya
Sementara mataku tak mengerdipkan kelopaknya
Mungkin saja, saat ini mataku dan mata Tuhan saling berpandangan
Aku terkoyak dalam duka akibat tak mampu mengasihi;
Aku terjamah oleh sapuan kenangan tangannya yang membelai akrab
Aku melenguh di balik dipan dengan tangan memeluk setiap bekas tubuhnya

Dia, Ibuku…
Mengajarkan tentang mengatur kehidupan sedari dini
Tanpa restunya, seolah duniaku dikelilingi bencana
Tak perlu bersuara, apalagi berteriak memberitahu alam bahwa aku mencintainya
Sebab, hatiku terlanjur menciut ketika nafasnya semakin menipis, aku tak berada di sampingnya dan mengantarnya memeluk Tuhan

24 Desember 2017

Puisi, Sajak

Noktah Rasa

Sebilang larikku tentang cinta daripada kau tak bertujuan
Mungkin aku harus beruntai-landai ‘tuk berganti wajah kejamku sepekan
Ilusiku mendelik kelimpungan
Atas moncong jiwaku mengusap selongsong badan
Berharap menyapa partikel ingatan–perumpamaan
Aku sadar akan…
Undakan rinduku menyibak pandangan
Sedu sedan

Puisi, Puisi dan Sajak

Dua Bait dari Hati

Roda kehidupan memang tak pernah berhenti berputar
Sepatutnya masa lalu kelam kita kubur di bawah semak belukar
Di sana, di pelupuk matamu terlihat balai pancapersada tertutup besuta yang berpinar
Kupertajam medan penglihatan yang hendak berpendar
Doa-doa yang terayun lembut mengusap pelipis dan sukma hingga bergetar
Akankah nadi-nadi kita berupaya merekatkan pesona yang semakin melebar?

Di malam itu, kita menutup mata di bawah bintang yang terjatuh di ujung negeri sana
Gelagat tulang yang gemeretak kedinginan, hipotermia seperti di kutub utara
Merindukan pori-pori yang melekat-menyatu dalam pelukan beraroma
Mempergundah bulu kuduk yang semakin menegang rindu ‘tuk berdua
Namun, suatu saat kita enyak menabur kepuasan atas sukaduka
Sampai akhirnya kita melupakan usaha memaafkan kekhilafan diri yang menua

Puisi, Puisi dan Sajak

Puisi Gila

Ronamu terkadang membutakan urat pada mataku
Sehingga aku tak payah melihat jelas dalam pandangmu
Karena sudah tentu kamu enyak dalam benak dan sukmaku
Sebagai manusia yang suci mencintai tanpa menipu

Sampai dada kita layu dan berhenti berkatup-katup
Seakan-akan membersamai lepasnya isyarat hati yang lincah meletup
Kamu selalu menyengajakan diri agar terjatuh dan menelungkup
Di pelukanku, dengan baumu yang nyaman kuhirup

Sesekali kakiku melangkah memburai lengangnya kota
Menuju titian awan di atas mata
Yang kemarin sore kita berdua lesapi sampai meronta
Di situ kutumpahi wajahmu dengan tetesan kenikmatan permata
Sampai akhirnya kamu selalu meminta

Bukan hanya kucintai ragamu
Tapi juga seluruh persendian jiwamu
Yang melepas dahaga ketika aku merasa binal di kala malam menjamu
Aku ‘kan merayumu
Hingga pagi, ‘kan kulihat wajah kita tetap bersemu

Ini tentang kegilaanku yang mencintaimu
Ini tentang syahwatku yang menelanjangi badanmu

Aku menikmati suasana ini
Meskipun sampai mati