Puisi, Sajak

Noktah Rasa

Sebilang larikku tentang cinta daripada kau tak bertujuan
Mungkin aku harus beruntai-landai ‘tuk berganti wajah kejamku sepekan
Ilusiku mendelik kelimpungan
Atas moncong jiwaku mengusap selongsong badan
Berharap menyapa partikel ingatan–perumpamaan
Aku sadar akan…
Undakan rinduku menyibak pandangan
Sedu sedan

Advertisements
Puisi, Puisi dan Sajak

Dua Bait dari Hati

Roda kehidupan memang tak pernah berhenti berputar
Sepatutnya masa lalu kelam kita kubur di bawah semak belukar
Di sana, di pelupuk matamu terlihat balai pancapersada tertutup besuta yang berpinar
Kupertajam medan penglihatan yang hendak berpendar
Doa-doa yang terayun lembut mengusap pelipis dan sukma hingga bergetar
Akankah nadi-nadi kita berupaya merekatkan pesona yang semakin melebar?

Di malam itu, kita menutup mata di bawah bintang yang terjatuh di ujung negeri sana
Gelagat tulang yang gemeretak kedinginan, hipotermia seperti di kutub utara
Merindukan pori-pori yang melekat-menyatu dalam pelukan beraroma
Mempergundah bulu kuduk yang semakin menegang rindu ‘tuk berdua
Namun, suatu saat kita enyak menabur kepuasan atas sukaduka
Sampai akhirnya kita melupakan usaha memaafkan kekhilafan diri yang menua

Puisi, Puisi dan Sajak

Puisi Gila

Ronamu terkadang membutakan urat pada mataku
Sehingga aku tak payah melihat jelas dalam pandangmu
Karena sudah tentu kamu enyak dalam benak dan sukmaku
Sebagai manusia yang suci mencintai tanpa menipu

Sampai dada kita layu dan berhenti berkatup-katup
Seakan-akan membersamai lepasnya isyarat hati yang lincah meletup
Kamu selalu menyengajakan diri agar terjatuh dan menelungkup
Di pelukanku, dengan baumu yang nyaman kuhirup

Sesekali kakiku melangkah memburai lengangnya kota
Menuju titian awan di atas mata
Yang kemarin sore kita berdua lesapi sampai meronta
Di situ kutumpahi wajahmu dengan tetesan kenikmatan permata
Sampai akhirnya kamu selalu meminta

Bukan hanya kucintai ragamu
Tapi juga seluruh persendian jiwamu
Yang melepas dahaga ketika aku merasa binal di kala malam menjamu
Aku ‘kan merayumu
Hingga pagi, ‘kan kulihat wajah kita tetap bersemu

Ini tentang kegilaanku yang mencintaimu
Ini tentang syahwatku yang menelanjangi badanmu

Aku menikmati suasana ini
Meskipun sampai mati

Puisi, Puisi dan Sajak

Avontur Rasa di Balik Kepalamu

Kerlingan matamu menyuguhkan rasa yang amat terhormat
Sedangkan aromamu memeluk hingga ke spina servikalku
Maklumatku yang cukup berharga atas dasar kucintai jiwamu
Ini bukan persoalan duri di dalam daging yang lugu
Yang mengungkap tabiat lamat-lamat
O, sungguh aromamu melekat dan melebur dalam sumsum tulang belakangku
Macam mana aku hendak meneduhkan ruh perasaanku yang hebat?

Meski 1000 tahun lagi kita hidup, sampai gigiku ompong
bahkan keutuhan rasaku padamu tak berubah wujud jua
Bahkan saat para biarawati memangku rasa malu pada tengkukku yang mengilap
Sekelebat bayanganmu menggelinjang dalam tempurung kepalaku menyilap
Menghantui seluruh persepsi yang melanda dalam nafsu berahi berdua
Yang hanya berujung keramat khayali; kosong melompong

Terkesiap dalam wujud arkais
Menyelinap dan menelaah lobus frontalku sampai habis
Terlalu lama kupendam cincin kebahagiaan yang kupatri berma mengais
Terlalu lama kukubur prisma asmara ini dan kubawa lari hingga hampir apatis
Terlalu lama kuhirup udara gersang kemarau bersenda gurau menangis

Maka, kelak aku akan mati membawa sisa rasa dan karsa ‘tuk memilikimu
Maka, ketika air mukaku dihadapkan dengan anak cucumu, tampaklah perih
Pernahkah kau mau membalikkan kepala ‘tuk menengok rasaku?

Puisi dan Sajak, Sajak

Berparadoks

Kita berparadoks di hadapan Tuhan
Bersilat doa dalam sembahyang
Mengingat masa-masa binal berkelindan menyeruak selongsong badan
Seperti suara sendok-garpu yang berdentingan pada makan malam kemarin
Ya, mengingatkan masa-masa binal
Dan cahaya langit mengisyarat isi bathin
Seakan-akan berkata paradoks—
Di satu sisi, ucapan seolah melingkungi perbatasan antara kebaikan dan kejahatan;
di sisi lain, senyuman keresahan tersungging berdekat pada alam kebodohan pikiran

Kita terserat dalam bijana; terkurung dalam fatamorgana
Berselir mendambakan arwah keniscayaan elok buana
Hampir-hampir jantung kita berdebam sirna
Berbalut kain sutra dari urat-urat ketulusan memeluk hawa temaram berkelana
Lalu, masing-masing jiwa menipu dirinya dengan segala peraduan lisan
Lalu, masing-masing nafas membohongi lubang dalam paru-parunya, dan memberikan udara yang memengapkan
Kita mengakui—berparadoks di hadapan Tuhan

Cikarang,
30/05/2017

Puisi dan Sajak, Sajak

Nanar Omega di Puncak Jenggala

Desal bertaruk mematahkan senja
Memoar membelai kasta nurani yang bersahaja
Lesap birahi bermandikan manja
Kutengok kirana yang berpendar, lalu meredup hampa memuja

Mematung dalam nanar
Menyelir sisa kenangan yang terbakar dalam semak belukar
Omegaku berputar-putar

Ini bukan sekadar adverbia
Atau aku hanya menyesal dalam fobia
Di puncak jenggala, kukelir usia
Di puncak semesta, kucerai mulia
Bisikanku teramat frontal bagi isi kepala manusia
–sudah biasa

Nanar omega di puncak jenggala
Meluruh alam kubagi bianglala
Agar setiap titik kehidupan ‘kan bermula
Dan udara yang hambar, memecah belah situasi seperti sediakala

Meskipun uratku t’lah mengejang-membiru
Kusematkan sedikit lagi nanar dalam kelabu
Supaya ia tahu,
biarlah aku…
Ah, sudahlah! Ini semua ‘kan berlalu

Cikarang,
24/05